Friday, May 14, 2021

Kenapa ya?

 Kenapa orang2 kepengen punya anak? Sudah punya satu anak, masih pengen tambah anak. Kenapa sudah punya dua anak masih pengen tambah anak lagi, dst. Hal2 kaya gini sering banget mengusik pikiran gue. Sebagai orang yang kurang suka anak kecil. Bukan tipe orang yang kalo ada anal kecil langsung ingin ambil peran. Pertanyaan2 kaya gini suka menggelitik pikiran. Terlebih buat gue yang kekeuh cuma mau punya satu anak. Padahal orang2 ga tau aja. Kalo ada opsi gak punya anak. Gue akan pilih opsi itu. Karena apa? Ya gue ngerasa it suits on me. Gue ngerasa ga attach aja sama anak kecil 🤣

Pertanyaan2 tentang tambah anak kaya gini juga suka bikin gue senewen sendiri. Why do they care about? Why? Padahal kan mereka aja gak bantuin gue urus anak. Gak bantuin gue bayarin kebutuhan anak. And whatsoever. 

Kadang suka pengen teriak kencen2 sama semua orang tentang "gue memilih untuk mempunyai satu anak. Kenapa kalian yang rempong? Gak semua orang mau punya anak banyak dan ya gak apa2"

Terlebih lagi partner gue yang juga pengen punya anak lagi. Mungkin dengan opsi anak asuh. Mon maap. Anak asuh kan kudu diurus juga ye 🙈

Ntahlah. Suka pen menyerah aja sama hal2 kaya gini. Do they know i don't like it and i don't want it 🙈

It's sucks. Been stuck at this kind of situation it's sucks. Should i give up on this 🙈

Saturday, August 17, 2019

Ngoceh Malam Dalam Episode : Yakin Ngurusnya Berdua?

"Bikinnya berdua ngurusnya anaknya juga berdua" sebuah slogan dari akun socmed yang isinya sekumpulan bapak-bapak yang mendukung ASI dan para ibu yang juga mengASIhi. Enggg.. sebenernya gue gak mau bahas soal ASI sih. Tapi lebih ke mempertanyakan perihal slogan tersebut. Apa iya bapak-bapak modern ini punya concern lebih terhadap kebutuhan ibu dan anaknya pun mau ikut turun tangan membantu ibu dalam mengurus anak mereka.

Disekitar gue masih banyak laki-laki yang belum mau konsisten untuk ikut membantu ibu dalam hal mengurus anak. Yaiya bantu ngajak main, ganti popok, mandiin, kasih makan. Tapi apa iya sekonsisten itu?

Ada kalanya ketika si ibu tidak meminta bantuan apakah ada kesadaran dari para bapak untuk sekedar berkata "sini saya bantu jagain anaknya/mandiin anaknya/kasih makan anaknya sementara kamu melakukan hal lain" tanpa para ibu meminta atau lebih-lebih memohon bantuan para bapak.

Kadang saking terlalu enggan untuk meminta tolong karena berbagai penolakan seperti "nanti ya sebats dulu" "nantinya segame dulu" si ibu lebih baik melakukan semuanya sendiri meskipun dalem hati mangkel dan ngedumel.

Laki-laki cenderung lebih cuek urusan domestik memang ketimbang perempuan. Karena memang tugasnya dia memang bukan disitu. Tapi apa iya gak ada sedikit pemikiran bahwa "oh iya setiap orang butuh break kali ya. Biar pasangan gue kaga manyun mungkin kalo gue bantu jagain anak tanpa diminta bikin hati dia lebih senang".

Entahlah gue bukan laki-laki sih jadi gak tau isi kepalanya apa. Mbuh. Namanya juga racauan tengah malam. Nm

Wednesday, January 27, 2016

Surat dari Praha : Romantisme dan Cinta

Dua hari lalu, tepatnya 25 Januari 2016 saya menghadiri gala premiere film "Surat dari Praha". Film ini terinspirasi dari 20 tahun Glenn Fredly berkarya, maka di film tersebut kita akan disuguhkan beberapa karya dari seorang Glenn Fredly.

Film "Surat dari Praha" garapan sutradara Angga Sasongko ini bercerita mengenai perjalanan Larasati (Julie Estelle) untuk memenuhi wasiat dari ibunya Sulastri (Widyawati) mengantarkan sepucuk surat dan sebuah kotak kayu kepada seseorang bernama Jaya (Tio Pakusadewo) seorang eksil yang tinggal di kota Praha.

Berbekal alamat yang berada di surat tersebut, terbanglah Larasati ke kota Praha ibukota dari Republik Ceko. Film ini diawali dengan konflik antara Laras dan Jaya perihal wasiat dari Sulastri. Tentang bagaimana Jaya yang berusaha mengikhlaskan apa yang terjadi di hidupnya selama ini dan runtuh akibat kedatangan Laras, seorang anak dari mantan tunangannya.

Film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini membawa saya kepada sebuah cerita drama yang mengalir dengan alunan lagu karya musisi Glenn Fredly yang dibawakan oleh Laras dan Jaya. Waktu 90 menit tidak terasa karena film ini seolah mengajak kita masuk ke dalam ceritanya, ke dalam dimensi waktunya, ke dalam isi ceritanya. Kenapa Laras bersikap begitu keras kepada ibunya, mengapa ia begitu kecewa dengan ibunya. Mengapa Jaya tak henti-hentinya mencintai seorang Sulastri.

Jujur saya kagum dengan film ini, bagaimana seorang Irfan Ramly sebagai seorang penulis skenario bercerita dan bagaimana seorang Angga Sasongko meramu film ini dan membawa penontonnya larut di dalamnya. Dan penuturan sebuah sejarah masa lalu yang mungkin terlupakan, ditampilkan dalam film ini adalah cara yang cerdas untuk kita renungi "sudah cukup cintakah kamu pada tanah airmu?". Hidup di negeri ini puluhan tahun bahkan sampai mati pun belum tentu kita bisa mencintai tanah air ini dengan segala carut marutnya, kebobrokannya, dan segala ketidak nyamanannya. Tapi bagi seorang Jaya dan para eksil lainnya "cinta tanah air itu tanpa tapi" karena sejatinya cinta adalah tanpa tapi. Pesan saya, datangilah bioskop terdekatmu pada tanggal 28 Januari 2016 tonton "Surat dari Praha" dan jatuh cintalah. NM