"Mengapa kita bicara harus bisik-bisik bu?", tanya seorang anak kepada ibunya
"Nak, dinding kita punya telinga untuk mendengar setiap percakapan kita", ujar ibunya
"Aku tidak nyaman bu"
"Beginilah keadaannya nak, mau tidak mau, nyaman atau tidak, kamu harus terima"
"Bu, mengapa kebebasan kita dibungkam?"
"Kata siapa nak? Kebebasan kita tidak dibungkam, buktinya kita masih bisa bicara"
"Kita bisa berbicara bu, tapi tidak bersuara"
"Bedanya apa nak? toh sama saja"
"Tidak bu, tidak sama. Buktinya untuk berbicara dengan ibu saja kita harus bisik-bisik"
"Nak, ibu tidak mau kita terpisah lantaran dinding kita bisa mendengar percakapan kita"
"Mengapa bu? Mengapa dinding kita bisa mendengar, mengapa kalau ia mendengar percakapan kita?"
"Sudahlah nak, jangan berisik dan jangan banyak bersuara"
"Kenapa?"
"Karena keingintahuanmu bisa berakibat buruk bagimu, bagiku, bagi bapakmu, atau keluarga kita"
"Sebegitu menyeramkannya bu?"
"Sudahlah, jangan banyak bersuara nak, nanti dinding itu bisa mendengar percakapan kita. Biarlah kita begini asal kita semua aman"
"Iya bu aman, tapi aku merasa tidak nyaman"
(NM)