Resah dan gelisah menunggu setiap pesan singkat yang masuk ke dalam sebuah layanan pesan singkat dari smartphoneku, kadang tak tentu kapan pesan tersebut akan datang, tergantung si pengirim pesan, iya tergantung sang pengirim pesan. Apakah ia mempunyai secuil waktu untuk berkabar ataukah ia sedang dalam suasana hati yang biasa saja hingga tak lupa berkabar. Mungkin bukannya ia lupa untuk memberikan kabar hanya saja kesibukan kadang menjadi penghalang, belum lagi sekelumit masalah yang kadang membuat suasana hatinya tidak menentu, jikalau seperti itu, aku hanya dapat duduk diam dan terpaku menunggu. Kadang ada hasrat hati untuk menyapa namun aku tak kuasa, meskipun ia telah mengatakan padaku "tak apa berkabar, toh Aku tidak melarang" tapi entah mengapa, jari ini membeku tiap aku ingin mengirimkan sepatah kata "hai sedang apa?" terkesan bodoh dan terlalu basa-basi memang. Ya, dirinya tidak suka berbasa-basi, seolah membuang waktunya yang sangat berharga. Itulah yang membuatku kadang hilang arah, sehingga tak tahu harus berbuat apa.
Hei..lihat, sebuah pesan singkat dari dia yang kutunggu "Hi" begitu sapamu, kubalas "Hi" dan ia pun membalas "sedang apa?lg dikampus?" kubalas lagi dengar perasaan menggebu "gak,aku lg dikosan" secepat itu juga kamu membalas "oh,aku msh dikantor km sdh mkn?" dan aku pun berkata "aku udh mkn kok" dan pesan singkat pun berakhir dengan kata-katamu "sek ya lagi mumet" dan aku pun terpaku menatap layar smartphoneku, tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa, aku hanya dapat mengirimkan pesan berupa ":)" sebagai akhir dari percakapan kala itu.
Begitu seringnya hal itu terjadi sampai aku pun merasakan hal yang biasa jika ia sedang sibuk dengan urusannya, pekerjaannya atau bahkan dirinya. Tak jarang aku pun diam tanpa kabar sama sekali kepadanya, jika ia tak bertanya aku memilih diam dan memainkan jari-jari mungilku dsebuah social media, bercanda bersama kawan-kawanku disana atau sekedar iseng menyapa, ya aku tertawa disana, meskipun hati kecilku tak jarang menangis, ya menangisi apa saja yang bisa membuatku menangis. Kadang menangisi sikapmu yang tak tentu padaku, kadang menangisi rasa rinduku padamu, atau tidak jarang aku menangisi setiap kesalahanku yang membuatmu marah, tak senang bahkan ilfil dengan sikapku, iya aku menangis, tak tahukah kamu tentang itu? Aku memilih diam tak mengatakannya padamu, karena aku tidak mau kamu sakit karena sikapku, aku tak mau kamu larut dalam rasa bersalahmu, biar aku saja yang selalu merasa bersalah atas segala sikapku, bukan kamu.
Beberapa waktu lalu aku dilanda rasa lelah, aku lelah karena aku bingung harus berbuat apa, mungkin otak ini terus menerus berpikir dan hati ini terus menerus merasa. Setiap keluhan yang kamu lontarkan selalu aku rasa selalu aku cerna, semakin hari semakin terhimpit oleh perasaan itu hingga aku pun semakin menyalahkan diriku, labil, hilang arah, tak ada pegangan, itu yang aku rasa. Salah satu sahabatku mengatakan aku mengalami depresi mungkin belum sampai ketahap itu tapi aku sudah bisa dikatakan stress berat, sampai sahabatku pun bertanya "Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Apakah sedang mengalami masalah yang berat?" Aku tak kuasa berkata dan hanya dapat diam saja, sedikit senyum aku tampakkan namun rasanya sia-sia, sahabatku sepertinya tahu apa yang kurasa, dia hanya tersenyum dan berkata "cepat kamu atasi situasi ini kalau tidak akan semakin berlarut-larut, sayangi dirimu sendiri".
Aku bersyukur perasaan bersalah pada diriku sendiri pelan-pelan bisa kuatasi, meskipun ada saat dimana aku kembali menyalahkan diriku sendiri dengan apa yang sedang terjadi, tapi pelan-pelan aku berdamai dengan keadaan, dengan situasi ini dan juga diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa pulih untuk tidak lagi-lagi menyalahkan diriku sendiri, aku pun tak tahu..
NM
Hei..lihat, sebuah pesan singkat dari dia yang kutunggu "Hi" begitu sapamu, kubalas "Hi" dan ia pun membalas "sedang apa?lg dikampus?" kubalas lagi dengar perasaan menggebu "gak,aku lg dikosan" secepat itu juga kamu membalas "oh,aku msh dikantor km sdh mkn?" dan aku pun berkata "aku udh mkn kok" dan pesan singkat pun berakhir dengan kata-katamu "sek ya lagi mumet" dan aku pun terpaku menatap layar smartphoneku, tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa, aku hanya dapat mengirimkan pesan berupa ":)" sebagai akhir dari percakapan kala itu.
Begitu seringnya hal itu terjadi sampai aku pun merasakan hal yang biasa jika ia sedang sibuk dengan urusannya, pekerjaannya atau bahkan dirinya. Tak jarang aku pun diam tanpa kabar sama sekali kepadanya, jika ia tak bertanya aku memilih diam dan memainkan jari-jari mungilku dsebuah social media, bercanda bersama kawan-kawanku disana atau sekedar iseng menyapa, ya aku tertawa disana, meskipun hati kecilku tak jarang menangis, ya menangisi apa saja yang bisa membuatku menangis. Kadang menangisi sikapmu yang tak tentu padaku, kadang menangisi rasa rinduku padamu, atau tidak jarang aku menangisi setiap kesalahanku yang membuatmu marah, tak senang bahkan ilfil dengan sikapku, iya aku menangis, tak tahukah kamu tentang itu? Aku memilih diam tak mengatakannya padamu, karena aku tidak mau kamu sakit karena sikapku, aku tak mau kamu larut dalam rasa bersalahmu, biar aku saja yang selalu merasa bersalah atas segala sikapku, bukan kamu.
Beberapa waktu lalu aku dilanda rasa lelah, aku lelah karena aku bingung harus berbuat apa, mungkin otak ini terus menerus berpikir dan hati ini terus menerus merasa. Setiap keluhan yang kamu lontarkan selalu aku rasa selalu aku cerna, semakin hari semakin terhimpit oleh perasaan itu hingga aku pun semakin menyalahkan diriku, labil, hilang arah, tak ada pegangan, itu yang aku rasa. Salah satu sahabatku mengatakan aku mengalami depresi mungkin belum sampai ketahap itu tapi aku sudah bisa dikatakan stress berat, sampai sahabatku pun bertanya "Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Apakah sedang mengalami masalah yang berat?" Aku tak kuasa berkata dan hanya dapat diam saja, sedikit senyum aku tampakkan namun rasanya sia-sia, sahabatku sepertinya tahu apa yang kurasa, dia hanya tersenyum dan berkata "cepat kamu atasi situasi ini kalau tidak akan semakin berlarut-larut, sayangi dirimu sendiri".
Aku bersyukur perasaan bersalah pada diriku sendiri pelan-pelan bisa kuatasi, meskipun ada saat dimana aku kembali menyalahkan diriku sendiri dengan apa yang sedang terjadi, tapi pelan-pelan aku berdamai dengan keadaan, dengan situasi ini dan juga diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa pulih untuk tidak lagi-lagi menyalahkan diriku sendiri, aku pun tak tahu..
NM