Saturday, October 20, 2012

10202012 - Tentangku

Resah dan gelisah menunggu setiap pesan singkat yang masuk ke dalam sebuah layanan pesan singkat dari smartphoneku, kadang tak tentu kapan pesan tersebut akan datang, tergantung si pengirim pesan, iya tergantung sang pengirim pesan. Apakah ia mempunyai secuil waktu untuk berkabar ataukah ia sedang dalam suasana hati yang biasa saja hingga tak lupa berkabar. Mungkin bukannya ia lupa untuk memberikan kabar hanya saja kesibukan kadang menjadi penghalang, belum lagi sekelumit masalah yang kadang membuat suasana hatinya tidak menentu, jikalau seperti itu, aku hanya dapat duduk diam dan terpaku menunggu. Kadang ada hasrat hati untuk menyapa namun aku tak kuasa, meskipun ia telah mengatakan padaku "tak apa berkabar, toh Aku tidak melarang" tapi entah mengapa, jari ini membeku tiap aku ingin mengirimkan sepatah kata "hai sedang apa?" terkesan bodoh dan terlalu basa-basi memang. Ya, dirinya tidak suka berbasa-basi, seolah membuang waktunya yang sangat berharga. Itulah yang membuatku kadang hilang arah, sehingga tak tahu harus berbuat apa.

Hei..lihat, sebuah pesan singkat dari dia yang kutunggu "Hi" begitu sapamu, kubalas "Hi" dan ia pun membalas "sedang apa?lg dikampus?" kubalas lagi dengar perasaan menggebu "gak,aku lg dikosan" secepat itu juga kamu membalas "oh,aku msh dikantor km sdh mkn?" dan aku pun berkata "aku udh mkn kok" dan pesan singkat pun berakhir dengan kata-katamu "sek ya lagi mumet" dan aku pun terpaku menatap layar smartphoneku, tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa, aku hanya dapat mengirimkan pesan berupa ":)" sebagai akhir dari percakapan kala itu.

Begitu seringnya hal itu terjadi sampai aku pun merasakan hal yang biasa jika ia sedang sibuk dengan urusannya, pekerjaannya atau bahkan dirinya. Tak jarang aku pun diam tanpa kabar sama sekali kepadanya, jika ia tak bertanya aku memilih diam dan memainkan jari-jari mungilku dsebuah social media, bercanda bersama kawan-kawanku disana atau sekedar iseng menyapa, ya aku tertawa disana, meskipun hati kecilku tak jarang menangis, ya menangisi apa saja yang bisa membuatku menangis. Kadang menangisi sikapmu yang tak tentu padaku, kadang menangisi rasa rinduku padamu, atau tidak jarang aku menangisi setiap kesalahanku yang membuatmu marah, tak senang bahkan ilfil dengan sikapku, iya aku menangis, tak tahukah kamu tentang itu? Aku memilih diam tak mengatakannya padamu, karena aku tidak mau kamu sakit karena sikapku, aku tak mau kamu larut dalam rasa bersalahmu, biar aku saja yang selalu merasa bersalah atas segala sikapku, bukan kamu.

Beberapa waktu lalu aku dilanda rasa lelah, aku lelah karena aku bingung harus berbuat apa, mungkin otak ini terus menerus berpikir dan hati ini terus menerus merasa. Setiap keluhan yang kamu lontarkan selalu aku rasa selalu aku cerna, semakin hari semakin terhimpit oleh perasaan itu hingga aku pun semakin menyalahkan diriku, labil, hilang arah, tak ada pegangan, itu yang aku rasa. Salah satu sahabatku mengatakan aku mengalami depresi mungkin belum sampai ketahap itu tapi aku sudah bisa dikatakan stress berat, sampai sahabatku pun bertanya "Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Apakah sedang mengalami masalah yang berat?" Aku tak kuasa berkata dan hanya dapat diam saja, sedikit senyum aku tampakkan namun rasanya sia-sia, sahabatku sepertinya tahu apa yang kurasa, dia hanya tersenyum dan berkata "cepat kamu atasi situasi ini kalau tidak akan semakin berlarut-larut, sayangi dirimu sendiri".

Aku bersyukur perasaan bersalah pada diriku sendiri pelan-pelan bisa kuatasi, meskipun ada saat dimana aku kembali menyalahkan diriku sendiri dengan apa yang sedang terjadi, tapi pelan-pelan aku berdamai dengan keadaan, dengan situasi ini dan juga diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa pulih untuk tidak lagi-lagi menyalahkan diriku sendiri, aku pun tak tahu..


NM

Wednesday, October 03, 2012

Belajar Saling Mengerti untuk Saling Berbagi

Terbersit di kepala gw mengenai obrolan dengan teman twitter beberapa jam yang lalu, tentang "kenapa orang-orang pinter itu engga bisa bicara atau menulis dengan bahasa yang bisa dipahami banyak orang, apa sebegitu mahalnya ilmu itu?". Buat sebagian orang, untuk gw  misalnya penggunaan kata-kata sulit atau bahasa teknis yang engga semua orang ngerti (katakanlah begitu) kadang-kadang emang jadi malesin. Kenapa? karena masing-masing individu punya keterbatasan..we're human, rite? Dan kadang engga semua orang paham dengan hal itu. Di satu sisi kita mungkin ingin memperkaya diri dengan berbagai macam pemahaman, berbagai macam ilmu serta berbagai macam sudut pandang, tapi kalau si pemberi pesannya aja udah bikin kita nge-per atau mundur teratur, apa yang disampaikan pun mental aja gitu dari kepala kita at the end cuma bisa melongo+ngebatin "ni orang ngomong apa sik?".

Contohnya begini, gw yang emang belajar komunikasi engga mungkin nyekokin orang lain dengan berbagai macam teori komunikasi atau berbagai macam istilah-istilah komunikasi kepada orang awam. Begitu pun sebaliknya, gw juga engga selalu tau apa yang orang lain sampaikan dari latar belakang pendidikan selain yang gw pelajari saat ini. Gw pun punya keterbatasa itu, orang lain juga. Jadi, gimana cara kita biar sama-sama nyambung kalau ngobrol dengan apa pun media kita bertukar pikiran.

Pada umumnya orang-orang beranggapan bahwa komunikasi langsung akan lebih mudah bagi kita untuk bertukar pikiran, tapi jangan salah ketika seorang pemberi pesan memasukan berbagai macam istilah yang baku dan tidak semua orang mengerti pun bisa menjadi penghambat komunikasi kita dengan orang lain. Apalagi komunikasi tidak langsung yang saat ini cukup marak, entah berupa pesan singkat maupun social media. Kita sebagai pelaku jenis komunikasi semacam itu juga harus lebih jeli dalam memaknai setiap kata-kata yang disampaikan orang lain agar tidak terjadi kesalah pahaman makna.

Ada yang bilang bahwa ketika kita tidak mengerti ya bertanya saja, tapi sampai kapan kita akan terus bertanya dan bertanya, sampai orang yang kita tanya merasa bosan dan sebal dengan pertanyaan-pertanyaan kita? Atau ada lagi yang bilang "googling dong" lah kalau kita gaptek atau fasilitas kurang memadai, memakai paket internet yang tidak full service misalnya? Berbagai macam hambatan dalam berkomunikasi itu pasti ada cara meminimalisirnya yang kadang buat sebagian orang itu sulit dilakukan.

Gw pribadi, saking banyaknya hal yang gw engga tau, gw sampai bikin catatan kecil di handphone gw tentang kata-kata sulit itu jadi ketika orang lain mengatakan dan gw lupa, gw bisa lihat lagi catatan kecil gw itu. Itu salah satu contoh agar kita tidak terus-terusan bertanya.

Pernah suatu waktu gw protes (katakanlah seperti itu) kepada seseorang yang sering berkomunikasi dengan gw karena ia selalu menggunakan kata-kata baku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang jarang sekali gw dengar. Iya, gw sebel memang karena ini orang kok engga ngerti posisi gw ya, kan gak semua yang dia tau gw juga tau. Gw sempet sedikit marah karena engga sekali ia seperti itu tapi sering. Alih-alih ia menurunkan level pembicaraannya, ia cuma bilang sama gw "gw tau kapasitas lw dalam menangkap hal-hal yang gw sampaikan oleh karena itu gw tetap menggunakan kata-kata yang selama ini gw pakai bukan dengan menurunkan level pembicaraan gw sama lw toh kalau lw engga ngerti lw bisa nanya sama gw", saat itu gw cuma bisa diam dan berpikir "ooooh..ternyata engga semua orang pintar itu menggunakan istilah yang tidak kita mengerti karena ingin menunjukkan siapa dirinya tapi juga membantu kita untuk lebih kaya akan berbagai macam pemahaman".

Itulah mengapa gw jadi suka buat catatan kecil di handphone gw karena otak gw pun ada kapasitasnya. Untuk orang lain mungkin bisa dicoba apa yang gw lakukan. Buat gw pribadi sih sebisa mungkin menghindari kata-kata yang engga lazim digunakan dalam keseharian, gw berusaha untuk mencari padanan kata yang gw rasa pas untuk memberi pemahaman terhadap apa yang gw maksud atau dengan langsung menjelaskan pada orang yang berinteraksi sama gw apa maksud pembicaraan gw karena gw pun orang yang ilmunya masih terbatas, kalau pun gw masuk ke dalam suatu permbicaaran ya karena gw hanya berbagi tentang apa yang pernah gw alami dan gw tahu.

Mungkin orang-orang di luar sana tidak bermaksud untuk mengecilkan tingkat pemahaman kita, mungkin juga mereka justru membantu kita untuk berpikir lebih luas tapi...setiap orang punya cara yang berbeda-beda, ya karena setiap manusia punya keunikannya masing-masing dalam segi menyampaikan suara pikiran mereka maupun suara hati mereka. Maka berbahagialah ketika ada orang yang mau berbagi dengan kita apa pun caranya, tinggal kita cari kesepahamannya saja dan saling mengerti satu sama lain.
Selamat berbagi ilmu seluas-luasnya, teman :)


NM

PS: thnx to @bundabaik buat idenya :D