Saturday, July 13, 2013

Jogja Trip dan Bonus Perjalanan Keliling Jakarta

Gak terasa sekarang udah masuk bulan Juli aja, rencana mau cerita tentang perjalanan saya ke Jogja dibulan Mei lalu sempat tertunda selama satu bulan, okelah mumpung saat ini saya lagi santai mending saya cerita soal perjalanan saya ke Jogja yang menurut saya cukup absurd tapi tetap menyenangkan kok :D


24 Mei 2013

Saya berangkat ke Jogja menggunakan bus dari terminal Kampung Rambutan, karena yang beli tiket itu bukan saya maupun partner liburan saya, jadilah kita berdua menebak-nebak bus apa yang akan menemani perjalan kita dari Jakarta – Jogja, maklum lah nama bus yang asing di telinga kita berdua bikin kita penasaran. Jam 5 sore kami berdua sudah sampai di terminal, bus yang dijanjikan akan datang pukul 18.00 ternyata baru datang sekitar pukul 19.00 selepas isya. Saat itu tidak ada prasangka buruk atau feeling yang engga enak. Sekitar pukul 19.30 para penumpang naik ke bus tersebut, nah disini keanehan mulai terjadi, yang ada di kepala kita berdua cuma satu “bus macam apa ini?” bangkunya ada beberapa yang sudah tidak layak pakai, bagian dalam bus juga kotor ac-nya juga tidak begitu dingin, ya begitulah tampilan bus kami pada saat itu, dalam hati cuma bisa berdoa “semoga perjalan kami lancar” karena besok siang kami masih harus meneruskan perjalanan ke Magelang untuk melihat prosesi Waisak di candi Borobudur.

Pukul 20.00 bus akan segera berangkat, namun saya baru beberapa meter bus tersebut jalan ternyata ac-nya mati, jadilah seluruh penumpang yang mengisi setengah dari kapasitas bus harus menunggu mesin ac dibetulkan. Saat itu para penumpang sudah mulai marah oleh pengelola dan juga supir, karena harga yang mereka bayar bukan untuk mendapatkan bus rusak dan tidak sepadan dengan apa yang mereka bayarkan. Setengah jam berlalu, akhirnya bus kami pun mulai melakukan perjalanannya, saya pun mulai memberi kabar ke teman-teman yang sudah lebih dulu sampai di Jogja bahwa kami sudah berangkat.

Dalam perjalanan tersebut seperti biasa saya duduk di pojok dekat jendela, tempat favorit saja. Setelah hampir satu jam kami meninggalkan terminal, ternyata ada keanehan lain “ini bus kenapa berada di tol yang mengarah ke tanjung priok, kenapa tidak langsung ke tol Cikampek?” akhirnya saya memberitahukan partner saya agar dia menanyakan kepada supir bus karena saya pikir dia akan mencari penumpang berhubung kapasitas bus masih setengahnya. Setelah ditanya ke supir tersebut ternyata si supir salah masuk tol dan setelah teguran dari para penumpang, si supir tersebut keluar tol dan putar balik, dan bodohnya si supir itu malah mengarahkan busnya ke Pulogadung dan entah untuk alasan apa karena setelah sampai terminal Pulogadung, dia hanya putar balik lagi dan kembali kearah bypass menuju cawang. Semua penumpang sudah sangat marah, karena harusnya saat itu kami sudah berada di tol Cikampek tapi malah diputar-putar oleh supir bus yang ternyata tidak tahu jalan, bayangkan saja di Jakarta saja kami sudah kesasar apalagi nanti ketika sudah masuk ke Jawa Barat/Jawa Tengah.Sudah hampir tengah malam kami baru memasuki tol Cikampek, itu pun masih harus terjebak macet di tol Jatibening, saya pun mulai lelah dan mengantuk.


25 Mei 2013

Pukul 01.00 saya terbangun, saya pikir bus sudah melaju jauh dari Jakarta, taunya masih di daerah Cibitung, supir bus mengambil penumpang di GT Cibitung dan penumpang bus sudah mulai penuh, saya hanya terbangun sebentar, perut sudah pun sudah mulai keroncongan karena baru diisi pada jumat siang dan bus belum ada tanda-tanda akan istirahat makan, jadi lebih baik saya melanjutkan tidur saya saja. Pukul 04.00 bus berhenti di Indramayu untuk beristirahat, bayangkan saja kami berangkat sekitar pukul 20.30 dan baru beristirahat pada pukul 04.00 dan masih di daerah Indramayu pula, mau sampai kapan kami sampai di Jogja?

Pagi mulai menjelang, bus kami sempat berhenti sekali karena ac mulai ngadat dan saat itu sudah sekitar pukul 06.00 atau pukul 07.00, saya pun sudah tidak bisa tidur karena sudah mulai gelisah. Perjalanan ke Jogja masih sekitar enam sampai tujuh jam lagi tapi kami masih berada di sekitar Cirebon dan waktu kami benar-benar terbuang sia-sia.

Sesampainya di Kabupaten Brebes ada satu kejadian yang membuat saya benar-benar sudah habis kesabaran. Si supir yang sudah membawa kami berkeliling Jakarta sebagai bonus perjalanan, ternyata melakukan hal bodoh lagi, ia melewati jalan yang sama selama dua kali. Partner saya pun mengatakan kepada saya agar kita melanjutkan perjalanan menggunakan travel ke Jogja. Sebenarnya ide tersebut sudah tercetus saat kami berada di Cirebon tapi saya sanksi karena kita berdua tidak tahu jalan dan bus tersebut tidak lewat tengah-tengah kota, jadi agak riskan untuk saat itu turun di Cirebon.

Beberapa travel dari Brebes ke Jogja pun sudah dihubungi dan ada satu travel yang akan berangkat pukul 10.00, jadi kami tidak perlu menunggu lama karena saat itu sudah pukul 09.00, turunlah saya berdua di Alun-alun kota Brebes, beberapa penumpang yang duduk di dekat bangku kami pun bertanya mengapa kami berdua turun di tengah perjalanan dan kami cuma bisa menjawab “mendingan turun deh pak, ngurang-nguranin dosa nih daripada marah-marah terus sama si supir bus”. Dengan perasaan lega kami turun dari bus menyebalkan itu, setidaknya kami tidak diliputi rasa kesal dan marah karena kelakuan supir bus yang super ajaib.


Supir bus yang sudah membawa kami berkeliling Jakarta


Iseng -iseng narsis sambil nunggu travel dari Brebes - Jogja

Alun-alun kota Brebes


Di alun-alun kami beristirahat sebentar di warteg kecil pinggir jalan, sekalian nge-charge handphone dan menunggu travel kami datang. Pukul 10.30 travel kami pun datang, kami penumpang pertama yang dijemput, si supir travel yang cukup ramah menanyakan tujuan kami kemana. Kami bilang tujuan kami ke Jogja, tapi sebenarnya kami akan ke Borobudur Magelang. Si supir pun menawarkan mengantar ke Magelang, ya hanya menambah uang rokok saja. Setelah sepakat kami berdua pun bisa tersenyum lega, lumayanlah kami tidak perlu capek-capek ke Jogja dulu baru ke Magelang. Setelah si supir menjemput dua orang penumpang yang lain, mulai lah perjalanan kami menuju Magelang. Selama perjalanan saya menikmati hamparan sawah yang hijau, rumah-rumah penduduk, jarang sekali saya melintasi jalanan yang penuh sesak, mungkin karena mobil travel jadi banyak melewati jalur alternatif. Sekitar pukul 15.00 kami istirahat di sebuah rumah makan, disitu kami berdua baru makan dengan santai tanpa terburu-buru, makanannya pun cukup enak khas masakan rumahan. Selesai makan saya menyempatkan diri untuk bersih-bersih badan, kamar mandinya bersih airnya segar, niatnya hanya ingin cuci muka tapi saya malah mandi karena saya piker sesampainya saya di Magelang sudah tidak sempat untuk mandi lagi.

Perjalanan pun dilanjutkan, di tengah-tengah perjalanan hujan mulai turun, sore yang hangat berubah menjadi dingin karena guyuran hujan. Memasuki kota Magelang, hujan makin deras dan kemacetan sudah mulai tampak. Selepas magrib kami berdua sampai di terminal dekat candi Borobudur, kami minta diturunkan di terminal karena kasihan dengan penumpang travel yang lain untuk mempersingkat waktu, tak lupa kami ucapan terima kasih yang tulus kepada pak supir yang sudah mengantarkan kami dengan selamat, ah andaikan supir bus kami seperti pak supir travel ini.

Perjalanan ke candi Borobudur kami lanjutkan dengan berjalan kaki, dari terminal hujan belum turun tapi saat kami hampir sampai candi, hujan mulai turun rintik-rintik. Sesampainya kami di pintu candi, para pengunjung mulai berdesakan. Pintu yang hanya dibuka sedikit menyulut pengunjung yang lain untuk saling dorong-dorong dan melontarkan teriakan-teriakan agar pintu dibuka lebih besar. Kami berdua akhirnya bisa masuk ke dalam. Di dalam candi Borobudur sudah banyak pengunjung, berbaur dengan para umat Budha. Sesampainya kami disana, Menteri Agama sedang melakukan pidato, dilanjutkan dengan pidato dari Gubernur Jawa Tengah dan juga dari Pemuka Umat Budha. Pengunjung semakin tak beraturan, hujan pun semakin deras. Para pengunjung yang bercengkrama dengan kawan-kawannya mengurangi ke-khusuk-an ibadah malam itu. Niat saya untuk mengeluarkan kamera karena ingin mengabadikan malam itu pun saya urungkan, hujan yang semakin deras ditambah saya tidak membawa paying menjadi alasannya. Cukup lah saya bisa melihat dari dekat Hari Raya Waisak di Borobudur tanpa harus mengabadikan moment ini dengan kamera mungil saya toh perjalanan dari Jakarta yang cukup melelahkan sudah mengurani minat saya mengambil gambar.

Sejam berlalu, akhirnya kami berdua bisa bertemu dengan rombongan kawan- kawan yang lain. Syukurlah kami berdua bisa bertemu mereka di tengah kerumunan ribuan orang, segala kesusahan selama kami menuju Borobudur pun terasa sirna. Pukul 22.00 hujan tidak mereda malah semakin deras, dari pengeras suara terdengar suara panitia yang menyampaikan bahwa apabila dalam waktu setengah jam hujan tidak reda acara pelepasan lampion harapan yang merupakan salah satu prosesi Waisak tidak akan dilaksanakan. Saya dan kawan-kawan masih menunggu setengah jam lagi, ternyata semesta berkata lain, apa yang sudah direncanakan oleh manusia tetap kembali pada kebesaran semesta. Hujan pun semakin deras dan kami bergegas untuk ke pintu keluar. Saat berjalan ke pintu keluar banyak para pengunjung yang merasa kecewa karena pelepasan lampion tidak jadi dilakukan pada malam itu, saya pribadi pun sudah tidak peduli, capeknya badan lebih menyita energi saya ketimbang harus merasa kecewa hanya karena pelepasan lapion tidak jadi dilakukan, toh kalau semesta berkehendak saya sebagai manusia bisa bilang apa, hujan tidak dapat dicegah karena itu kemauan dari semesta dan hujan itu merupakan anugerah jadi mengapa mesti marah.


Saya berdua terpisah dari rombongan, yang lain sudah menuju kendaraan masing-masing, karena hanya kami berdua yang tidak membawa kendaraan jadilah kami berteduh di sebuah warung, sekedar melepas lelah, mengisi perut dan menunggu kawan-kawan kami yang lain karena saat keluar kami berselisih jalan. Segelas teh manis hangat dan mie instant cup pun kami pesan untuk makan malam cukuplah untuk menemani malam kami yang dingin, setidaknya bisa menghangatkan hati dan badan yang terasa lelah selama lebih dari 24 jam ini.

Satu-satunya photo kemegahan Candi Borobudur saat perayaan Waisak yang saya photo menggunakan kamera handphone



NM

No comments:

Post a Comment