Gak terasa sekarang udah masuk bulan Juli aja, rencana mau
cerita tentang perjalanan saya ke Jogja dibulan Mei lalu sempat tertunda selama
satu bulan, okelah mumpung saat ini saya lagi santai mending saya cerita soal
perjalanan saya ke Jogja yang menurut saya cukup absurd tapi tetap menyenangkan
kok :D
24 Mei 2013
Saya berangkat ke Jogja menggunakan bus dari terminal
Kampung Rambutan, karena yang beli tiket itu bukan saya maupun partner liburan
saya, jadilah kita berdua menebak-nebak bus apa yang akan menemani perjalan kita
dari Jakarta – Jogja, maklum lah nama bus yang asing di telinga kita berdua
bikin kita penasaran. Jam 5 sore kami berdua sudah sampai di terminal, bus yang
dijanjikan akan datang pukul 18.00 ternyata baru datang sekitar pukul 19.00 selepas
isya. Saat itu tidak ada prasangka buruk atau feeling yang engga enak. Sekitar pukul
19.30 para penumpang naik ke bus tersebut, nah disini keanehan mulai terjadi, yang
ada di kepala kita berdua cuma satu “bus macam apa ini?” bangkunya ada beberapa
yang sudah tidak layak pakai, bagian dalam bus juga kotor ac-nya juga tidak
begitu dingin, ya begitulah tampilan bus kami pada saat itu, dalam hati cuma bisa
berdoa “semoga perjalan kami lancar” karena besok siang kami masih harus
meneruskan perjalanan ke Magelang untuk melihat prosesi Waisak di candi
Borobudur.
Pukul 20.00 bus akan segera berangkat, namun saya baru
beberapa meter bus tersebut jalan ternyata ac-nya mati, jadilah seluruh
penumpang yang mengisi setengah dari kapasitas bus harus menunggu mesin ac
dibetulkan. Saat itu para penumpang sudah mulai marah oleh pengelola dan juga
supir, karena harga yang mereka bayar bukan untuk mendapatkan bus rusak dan
tidak sepadan dengan apa yang mereka bayarkan. Setengah jam berlalu, akhirnya
bus kami pun mulai melakukan perjalanannya, saya pun mulai memberi kabar ke
teman-teman yang sudah lebih dulu sampai di Jogja bahwa kami sudah berangkat.
Dalam perjalanan tersebut seperti biasa saya duduk di pojok
dekat jendela, tempat favorit saja. Setelah hampir satu jam kami meninggalkan
terminal, ternyata ada keanehan lain “ini bus kenapa berada di tol yang
mengarah ke tanjung priok, kenapa tidak langsung ke tol Cikampek?” akhirnya
saya memberitahukan partner saya agar dia menanyakan kepada supir bus karena
saya pikir dia akan mencari penumpang berhubung kapasitas bus masih
setengahnya. Setelah ditanya ke supir tersebut ternyata si supir salah masuk tol
dan setelah teguran dari para penumpang, si supir tersebut keluar tol dan putar
balik, dan bodohnya si supir itu malah mengarahkan busnya ke Pulogadung dan
entah untuk alasan apa karena setelah sampai terminal Pulogadung, dia hanya
putar balik lagi dan kembali kearah bypass menuju cawang. Semua penumpang sudah
sangat marah, karena harusnya saat itu kami sudah berada di tol Cikampek tapi
malah diputar-putar oleh supir bus yang ternyata tidak tahu jalan, bayangkan
saja di Jakarta saja kami sudah kesasar apalagi nanti ketika sudah masuk ke
Jawa Barat/Jawa Tengah.Sudah hampir tengah malam kami baru memasuki tol
Cikampek, itu pun masih harus terjebak macet di tol Jatibening, saya pun mulai
lelah dan mengantuk.
25 Mei 2013
Pukul 01.00 saya terbangun, saya pikir bus sudah melaju jauh
dari Jakarta, taunya masih di daerah Cibitung, supir bus mengambil penumpang di
GT Cibitung dan penumpang bus sudah mulai penuh, saya hanya terbangun sebentar,
perut sudah pun sudah mulai keroncongan karena baru diisi pada jumat siang dan
bus belum ada tanda-tanda akan istirahat makan, jadi lebih baik saya
melanjutkan tidur saya saja. Pukul 04.00 bus berhenti di Indramayu untuk
beristirahat, bayangkan saja kami berangkat sekitar pukul 20.30 dan baru
beristirahat pada pukul 04.00 dan masih di daerah Indramayu pula, mau sampai
kapan kami sampai di Jogja?
Pagi mulai menjelang, bus kami sempat berhenti sekali karena
ac mulai ngadat dan saat itu sudah sekitar pukul 06.00 atau pukul 07.00, saya
pun sudah tidak bisa tidur karena sudah mulai gelisah. Perjalanan ke Jogja
masih sekitar enam sampai tujuh jam lagi tapi kami masih berada di sekitar
Cirebon dan waktu kami benar-benar terbuang sia-sia.
Sesampainya di Kabupaten Brebes ada satu kejadian yang
membuat saya benar-benar sudah habis kesabaran. Si supir yang sudah membawa
kami berkeliling Jakarta sebagai bonus perjalanan, ternyata melakukan hal bodoh
lagi, ia melewati jalan yang sama selama dua kali. Partner saya pun mengatakan
kepada saya agar kita melanjutkan perjalanan menggunakan travel ke Jogja. Sebenarnya
ide tersebut sudah tercetus saat kami berada di Cirebon tapi saya sanksi karena
kita berdua tidak tahu jalan dan bus tersebut tidak lewat tengah-tengah kota,
jadi agak riskan untuk saat itu turun di Cirebon.
Beberapa travel dari Brebes ke Jogja pun sudah dihubungi dan ada satu travel yang akan berangkat pukul 10.00, jadi kami tidak perlu
menunggu lama karena saat itu sudah pukul 09.00, turunlah saya berdua di
Alun-alun kota Brebes, beberapa penumpang yang duduk di dekat bangku kami pun
bertanya mengapa kami berdua turun di tengah perjalanan dan kami cuma bisa
menjawab “mendingan turun deh pak, ngurang-nguranin dosa nih daripada
marah-marah terus sama si supir bus”. Dengan perasaan lega kami turun dari bus
menyebalkan itu, setidaknya kami tidak diliputi rasa kesal dan marah karena
kelakuan supir bus yang super ajaib.
![]() |
| Supir bus yang sudah membawa kami berkeliling Jakarta |
![]() |
| Iseng -iseng narsis sambil nunggu travel dari Brebes - Jogja |
![]() |
| Alun-alun kota Brebes |
Di alun-alun kami beristirahat sebentar di warteg kecil pinggir
jalan, sekalian nge-charge handphone dan menunggu travel kami datang. Pukul 10.30
travel kami pun datang, kami penumpang pertama yang dijemput, si supir travel
yang cukup ramah menanyakan tujuan kami kemana. Kami bilang tujuan kami ke
Jogja, tapi sebenarnya kami akan ke Borobudur Magelang. Si supir pun menawarkan
mengantar ke Magelang, ya hanya menambah uang rokok saja. Setelah sepakat kami berdua
pun bisa tersenyum lega, lumayanlah kami tidak perlu capek-capek ke Jogja dulu
baru ke Magelang. Setelah si supir menjemput dua orang penumpang yang lain,
mulai lah perjalanan kami menuju Magelang. Selama perjalanan saya menikmati
hamparan sawah yang hijau, rumah-rumah penduduk, jarang sekali saya melintasi
jalanan yang penuh sesak, mungkin karena mobil travel jadi banyak melewati
jalur alternatif. Sekitar pukul 15.00 kami istirahat di sebuah rumah makan,
disitu kami berdua baru makan dengan santai tanpa terburu-buru, makanannya pun
cukup enak khas masakan rumahan. Selesai makan saya menyempatkan diri untuk
bersih-bersih badan, kamar mandinya bersih airnya segar, niatnya hanya ingin cuci
muka tapi saya malah mandi karena saya piker sesampainya saya di Magelang sudah
tidak sempat untuk mandi lagi.
Perjalanan pun dilanjutkan, di tengah-tengah perjalanan
hujan mulai turun, sore yang hangat berubah menjadi dingin karena guyuran
hujan. Memasuki kota Magelang, hujan makin deras dan kemacetan sudah mulai
tampak. Selepas magrib kami berdua sampai di terminal dekat candi Borobudur,
kami minta diturunkan di terminal karena kasihan dengan penumpang travel yang lain
untuk mempersingkat waktu, tak lupa kami ucapan terima kasih yang tulus kepada
pak supir yang sudah mengantarkan kami dengan selamat, ah andaikan supir bus kami seperti pak supir travel ini.
Perjalanan ke candi Borobudur kami lanjutkan dengan berjalan
kaki, dari terminal hujan belum turun tapi saat kami hampir sampai candi, hujan
mulai turun rintik-rintik. Sesampainya kami di pintu candi, para pengunjung
mulai berdesakan. Pintu yang hanya dibuka sedikit menyulut pengunjung yang lain
untuk saling dorong-dorong dan melontarkan teriakan-teriakan agar pintu dibuka
lebih besar. Kami berdua akhirnya bisa masuk ke dalam. Di dalam candi Borobudur
sudah banyak pengunjung, berbaur dengan para umat Budha. Sesampainya kami
disana, Menteri Agama sedang melakukan pidato, dilanjutkan dengan pidato dari
Gubernur Jawa Tengah dan juga dari Pemuka Umat Budha. Pengunjung semakin tak
beraturan, hujan pun semakin deras. Para pengunjung yang bercengkrama dengan
kawan-kawannya mengurangi ke-khusuk-an ibadah malam itu. Niat saya untuk
mengeluarkan kamera karena ingin mengabadikan malam itu pun saya urungkan,
hujan yang semakin deras ditambah saya tidak membawa paying menjadi alasannya. Cukup
lah saya bisa melihat dari dekat Hari Raya Waisak di Borobudur tanpa harus
mengabadikan moment ini dengan kamera mungil saya toh perjalanan dari Jakarta
yang cukup melelahkan sudah mengurani minat saya mengambil gambar.
Sejam berlalu, akhirnya kami berdua bisa bertemu dengan
rombongan kawan- kawan yang lain. Syukurlah kami berdua bisa bertemu mereka di
tengah kerumunan ribuan orang, segala kesusahan selama kami menuju Borobudur
pun terasa sirna. Pukul 22.00 hujan tidak mereda malah semakin deras, dari
pengeras suara terdengar suara panitia yang menyampaikan bahwa apabila dalam
waktu setengah jam hujan tidak reda acara pelepasan lampion harapan yang
merupakan salah satu prosesi Waisak tidak akan dilaksanakan. Saya dan
kawan-kawan masih menunggu setengah jam lagi, ternyata semesta berkata lain,
apa yang sudah direncanakan oleh manusia tetap kembali pada kebesaran semesta. Hujan
pun semakin deras dan kami bergegas untuk ke pintu keluar. Saat berjalan ke
pintu keluar banyak para pengunjung yang merasa kecewa karena pelepasan lampion
tidak jadi dilakukan pada malam itu, saya pribadi pun sudah tidak peduli, capeknya
badan lebih menyita energi saya ketimbang harus merasa kecewa hanya karena
pelepasan lapion tidak jadi dilakukan, toh kalau semesta berkehendak saya
sebagai manusia bisa bilang apa, hujan tidak dapat dicegah karena itu kemauan
dari semesta dan hujan itu merupakan anugerah jadi mengapa mesti marah.
Saya berdua terpisah dari rombongan, yang lain sudah menuju
kendaraan masing-masing, karena hanya kami berdua yang tidak membawa kendaraan
jadilah kami berteduh di sebuah warung, sekedar melepas lelah, mengisi perut
dan menunggu kawan-kawan kami yang lain karena saat keluar kami berselisih
jalan. Segelas teh manis hangat dan mie instant cup pun kami pesan untuk makan
malam cukuplah untuk menemani malam kami yang dingin, setidaknya bisa
menghangatkan hati dan badan yang terasa lelah selama lebih dari 24 jam ini.
![]() |
| Satu-satunya photo kemegahan Candi Borobudur saat perayaan Waisak yang saya photo menggunakan kamera handphone |
NM




No comments:
Post a Comment