Sebuah lagu mengalun indah dari laptopku, lagu yang pernah direkomendasikan oleh salah seorang sahabatku. Tepatnya dijebak sih untuk mendengarkan lagu tersebut, sahabatku bilang "Tadi aku baru dengerin satu lagu, kayanya pas banget buat kamu deh".
Ada rasa ragu kala aku ingin mendengarkannya tapi rasa penasaranku ternyata lebih besar...dan benar saja...baru satu, dua bait lagu tersebut air mataku mengalir deras tanpa henti. Air mata yang tidak dapat aku redam walau aku sudah berusaha untuk menampungnya hanya dalam hati. Tumpah semua perasaan yang selama ini aku pendam, lega karena bisa melampiaskan rasa yang selama ini bersemayam.
Aku sudah lama menghindarimu
Sialkulah kau di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuk jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan..upayaku tahu diri..
Tak slamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah..lagi..
Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan sgala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah
Dan..upayaku tahu diri..
Tak slamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah..lagi..
Berkali-kali kau berkata
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali tlah berjanji
Menyerah...
Dan..upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah..lagi...
(Maudy Ayunda - Tahu Diri)
Mungkin karena lirik lagu tersebut sedikit menyinggung kejadian beberapa hari sebelumnya, ya tatkala aku bertemu dengan dia yang selama ini (mungkin) kuhindari atau memang semesta sedang tidak mempertemukan kita. Dan ketika semesta mempertemukan, serasa ditampar oleh kenyataan bahwa ada dia yang sedang duduk disana tanpa aku sadari kehadirannya. Ya, sungguh diluar dugaan. Pahit memang, karena aku memang belum ingin bertemu dengannya walau dihati kecil aku rindu kehadirannya, pelukannya, dan kecupan lembutnya di kening aku seperti dulu.
Antara marah kepada semesta dan tak tahu harus berbuat apa, aku hanya diam dan tidak banyak bicara, seperlunya dan bukan kepadanya. Ah, kalau kuingat betapa bodohnya aku, betapa tololnya sikapku saat itu, buat apa aku membangun gunung es diantara aku dan dia. Dan kejadian bodoh itu pun aku ceritakan kepada sahabatku yang akhirnya menjebakku dengan lagu ini..iya aku merasa terjebak..hahaha..bodoh kuadrat.
Dan sekarang, hanya bisa tertawa kalau mengingat kejadian beberapa bulan lalu itu, stupid me.. :'D
NM

No comments:
Post a Comment