Monday, July 15, 2013

Awalnya Kita Hanya Menyimpan Rasa

Mungkin semua salahku, aku yang memulai semua lembaran kisah kita...
Dipertengahan Januari lalu kita bertemu, hanya kenal sebatas kawan sesama relawan..
Ya, hanya itu..
Bertegur sapa pun jarang, karena seperti biasa aku jarang memulai percakapan terhadap orang baru.
Lagipula saat itu kita semua sedang sibuk-sibuknya dengan tanggung jawab masing-masing, pun disana ada dia yang sangat aku puja. Dia yang selama ini berdiri di depanku, walau tak terlihat.

Aku baru bertegur sapa dan bisa bicara banyak denganmu tepat hari terakhir, iya hari terakhir kita menjadi relawan. Dan hari itu awal kita bertukar contact secara pribadi, awalnya masih biasa bahkan tak ada rasa.

Hari berganti minggu, tepat seminggu setelah perpisahan itu kita bertemu lagi dan (masih) tidak ada rasa apa-apa, ya hanya kenalan bahkan belum berlabel teman. Ya cuma itu, sebatas orang yang aku kenal.

Beberapa hari setelahnya, kita sempat bercerita banyak di blackberry messenger, kamu menemaniku malam itu ketika seluruh orang di rumahku sedang tidak ada, ya seperti biasa..sendiri..semacam kuncen yang bekerja menjaga rumah. Malam itu, bahkan aku tahu kamu sedang mengerjakan tugasmu, kamu pun sedang dikejar deadline, tapi masih menyempatkan diri untuk menemaniku, walau hanya lewat messenger.

Kamu dengan sabar membaca segala keluh kesahku, padahal kita tidak sedekat itu, ya seperti yang kubilang diawal, kalau kita masih sebatas kenalan belum ada label teman tapi mengapa nyaman. Ah sudah, cepat-cepat kutepiskan kata "nyaman" dibenakku.

Malam kian larut, seorang teman mengajakku untuk bermain ke rumahmu. Batinku "gimana caranya aku ke rumahmu, kendaraan tak ada, bahkan rumahmu pun entah dimana." Tapi temanku bilang "sudah ikut saja, nanti kita bertemu di resto fast food dekat rumahmu ya, kamu bisa kan naik ojek dari rumah?" dan aku pun mengiyakan.

Lewat tengah malam aku bertemu temanku, dari resto fast food itu aku meluncur ke rumahmu. Sedikit bercerita tentangnya juga tentangmu..dan dia.. "ooooh, jadi dia lagi suka sama cewe, kak? aku baru tahu sih, pantas saja waktu itu dia mengantar cewe itu pulang." dalam hati aku berbisik "oh sudah punya gebetan" (ITU SUDAH).

Sesampainya di rumahmu, aku merasa ada kehangatan yang menyeruak walau aku tahu kamu tinggal sendiri dan aku cuma bisa berdecak kagum dalam hati "hebat ya bisa hidup sendiri selama ini". Aku sebagai penyuka kesendirian pun tidak akan mampu melewatinya, ya aku salut denganmu dan itu kesan pertamaku. Sejak kunjungan pertamaku itu, entah mengapa kita semakin dekat mungkin karena jarak rumah kita yang tidak terlalu jauh atau memang karena kita sama-sama butuh seorang teman.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Entah sudah berapa kali kita bertemu, hanya berdua atau bersama dengan teman-temanmu. Saat kamu berulang tahun pun aku tidak ingin kamu melewatinya bersama teman-temanmu saja, aku semacam ingin ikut merasakan kebahagianmu dalam melewati pergantian usiamu.

Kini rasa itu bukan hanya sekedar kagum atau suka, mungkin sayang atau sudah cinta. Satu hal yang aku tahu, kesabaranmu, kedewasaanmu membuatku betah berlama-lama berada disampingmu. Kamu yang selalu membuatku merasa nyaman, membuatku merasa berharga, dan membuatku merasa mempunyai tempat istimewa di dalam hidupmu.


NM

Saturday, July 13, 2013

Jogja Trip - Istana Ratu Boko dan Museum Ullen Sentalu

Perjalanan saya di Magelang dan Jogja tidak hanya sampai di candi Borobudur saja, karena waktu yang cukup lama saya masih bisa mengunjungi objek wisata lain seperti Istana Ratu Boko dan Juga Museum Ullen Sentalu. Ya, sudah cukuplah berjibaku dengan para pengunjung yang mencapai ribuan orang di candi Borobudur pada saat Hari Raya Waisak, hari-hari berikutnya saya isi dengan jalan-jalan menikmati kota Jogja dan juga berkunjung ke tempat kerabat di daerah Godean.


26 Mei 2013

Hari ini kami berdua tidak pergi ke banyak tempat, hanya mengunjungi kerabat di daerah Godean. Malamnya saya berdua dan seorang teman menikmati malam di angkringan Tugu, sebelumnya kami makan malam di nasi goreng sapi dekat Semesta café, duh saya sendiri lupa nama tempatnya. Tapi menu yang berupa nasi goreng daging sapi yang disajikan cukup enak dan tempatnya juga cukup ramai dikunjungi.


27 Mei 2013

Setelah kami menginap di rumah kerabat di Godean, hari ini kami pindah ke penginapan yang lebih dekat dengan pusat kota. Siangnya kami mampir ke rumah makan Soto Pak Slamet, masih di sekitar Godean. Sotonya ayamnya enak, berisi ayam suwir,perkedel kentang,toge yang masih berupa kecambah,serta taburan bawang goreng dan daun bawang menambah nikmatnya soto ayam Pak Slamet, selain itu masih ada sate ayam, ayam goreng dan juga perkedel yang bisa kita tambahkan jika masih kurang, berbagai isian tambahan itu tersedia dalam satu piring di setiap meja.
Sore pun menjelang, kami berdua bersiap untuk pindah ke penginapan Pondok 71 di jl. MT Haryono, Pugeran. Setelah berpamitan dengan para kerabat di Godean, kami pun melanjutkan perjalanan kami dengan menggunakan ojeg dari Godean menuju  penginapan yang berada di pusat kota Jogja.
Sesampainya di penginapan ( Rp 100.000/malam), kami hanya istirahat sebentar  lalu dilanjutkan ke angkringan Tugu karena sudah ada janji dengan teman saya yang tinggal di Jogja. Karena kami belum sempat menyewa motor untuk berkeliling, malam itu kami berdua pergi ke angkringan Tugu menggunakan Trans Jogja, ini pertama kalinya saya naik Trans Jogja maklumlah terakhir ke Jogja belum ada transportasi bernama Trans Jogja ini.
Oh iya, tak disangka-sangka saya juga bertemu dengan teman saya yang lain saat di angkringan Tugu, karena saat saya diperjalanan menuju angkringan, ada salah seorang teman SMA saya yang berkuliah di Jogja melihat twit saya yang sedang ada di Jogja, saya piker sekalian saja bertemu di angkringan yah itung-itung reuni masa SMA. Jadilah malam itu teman SMA saya ikut gabung bersama saya dan teman-teman saya yang lain.
Puas ngobrol-ngobrol di angkringan, saya pamit pulang duluan karena besok pagi saya masih harus pergi ke objek wisata yang lain. Pulang dari angkringan saya mengajak partner saya jalan kaki sepanjang Malioboro sampai 0 Km, dari situ kami pulang ke penginapan menggunakan becak.

Rumah Makan Soto Pak Slamet




27 Mei 2013

Hari ini kami menyewa motor (Rp 50.000/hari) untuk dipakai berkeliling, setelah makan siang di dekat penginapan kami berdua pergi ke daerah Kota Gede lalu dilanjutkan ke Istana Ratu Boko. Perjalanan yang cukup jauh ditemani hujan gerimis ditengah-tengah perjalanan tidak menyurutkan niat kami untuk melihat kemegahan Istana Ratu Boko. Beruntung saat kami sampai disana, cuaca cukup cerah berawan sepertinya semesta cukup bersahabat dengan kami. Sesampainya di Istana Ratu Boko, kami disuguhkan pemandangan alam yang begitu indah dari atas bukit, tidak hanya di Istana Ratu Boko saja, tapi disepanjang perjalanan menuju objek wisata ini mata kita dimajakan dengan hamparan sawah yang luas, pohon-pohon yang rindang dan pemukiman yang asri.
Berbekal tiket masuk Rp 25.000 ( gratis sebotol air mineral ukuran kecil) saya menaiki tangga-tangga kecil mengarah ke Istana Ratu Boko, sebelum memasuki gerbang Istana, pengelola menyediakan taman yang cukup luas untuk kita beristirahat, ada beberapa pendopo kecil dan juga bangku-bangku taman yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Di taman itu saya bertemu dengan beberapa ekor anjing kecil yang sedang bermain. Mereka cukup ramah kepada para pengunjung Istana Ratu Boko, saya pun sempat bermain dengan mereka sebelum memasuki gerbang istana.
Saat saya memasuki gerbang istana, kemegahan Istana Ratu Boko sudah mulai terasa. Hamparan lapangan yang luas menyambut saya setelah saya melewati gerbang istana. Di bagian kiri dari gerbang istana ada sebuah bangunan berupa candi yang dinamakan candi pembakaran, dari candi pembakaran saya menuju ke pendopo, kepuntren dan juga kompleks pemandian yang sangat cantik. Dari areal kepuntren kita bisa melihat keindahan perbukitan yang berada di belakang Istana.
Sayang sekali saat saya kesana cuaca sedang berawan sehingga saya tidak dapat menikmati keindahan matahari terbenam di Istana Ratu Boko karena objek wisata ini sangat cocok untuk menikmati indahnya matahari terbenam dari sela-sela gerbang istana.


Jalan menuju gerbang istana

Gerbang istana dari atas candi pembakaran





















28 Mei 2013



Hari ini hari terakhir kami berada di Jogja, rencana kami siang ini adalah mengunjungi Museum Ullen Sentalu yang berada di Kaliurang. Kali ini saya tidak hanya berdua tapi bertiga dengan seorang teman saya, siang ini kami berangkat dari penginapan sekalian check out karena sorenya kami sudah harus kembali lagi ke Jakarta.
Sesampainya di Ullen Sentalu saya cukup terkesima dengan pintu masuknya yang  banyak ditumbuhi tumbuhan rambat. Museum ini merupakan museum pribadi milik dari keluarga Haryono yang saat ini dikelola oleh Yayasan Ulating Blencong. Museum ini terdiri dari beberapa ruangan yaitu : ruang selamat datang,ruang seni tari dan gamelan,guwa sela giri,kampung kambang,dan koridor retja landa ,semua ruangan tersebut terdiri dari peninggalan kerajaan Mataram Islam di Jogja dan Solo.
Di museum ini pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar di ruangan-ruangan yang sudah saya sebutkan sebelumnya kecuali di area taman dan café yang merupakan sarana pendukung museum. Meskipun begitu, museum Ullen Sentalu merupakan objek wisata wajib bagi kita yang ingin mempelajari mengenai sejarah kerajaan Mataram Islam, di museum tersebut sarat dengan berbagai macam kekayaan sejarah dari keraton.
Setelah berkunjung ke museum Ullen Sentalu tibalah waktunya bagi kami berdua untuk kembali ke Jakarta, dengan menggunakan bus tujuan terminal kampung rambutan saya pulang ke Jakarta untungnya bus saya kali ini tidak seperti bus pada waktu saya berangkat ke Jogja.








NM

Jogja Trip dan Bonus Perjalanan Keliling Jakarta

Gak terasa sekarang udah masuk bulan Juli aja, rencana mau cerita tentang perjalanan saya ke Jogja dibulan Mei lalu sempat tertunda selama satu bulan, okelah mumpung saat ini saya lagi santai mending saya cerita soal perjalanan saya ke Jogja yang menurut saya cukup absurd tapi tetap menyenangkan kok :D


24 Mei 2013

Saya berangkat ke Jogja menggunakan bus dari terminal Kampung Rambutan, karena yang beli tiket itu bukan saya maupun partner liburan saya, jadilah kita berdua menebak-nebak bus apa yang akan menemani perjalan kita dari Jakarta – Jogja, maklum lah nama bus yang asing di telinga kita berdua bikin kita penasaran. Jam 5 sore kami berdua sudah sampai di terminal, bus yang dijanjikan akan datang pukul 18.00 ternyata baru datang sekitar pukul 19.00 selepas isya. Saat itu tidak ada prasangka buruk atau feeling yang engga enak. Sekitar pukul 19.30 para penumpang naik ke bus tersebut, nah disini keanehan mulai terjadi, yang ada di kepala kita berdua cuma satu “bus macam apa ini?” bangkunya ada beberapa yang sudah tidak layak pakai, bagian dalam bus juga kotor ac-nya juga tidak begitu dingin, ya begitulah tampilan bus kami pada saat itu, dalam hati cuma bisa berdoa “semoga perjalan kami lancar” karena besok siang kami masih harus meneruskan perjalanan ke Magelang untuk melihat prosesi Waisak di candi Borobudur.

Pukul 20.00 bus akan segera berangkat, namun saya baru beberapa meter bus tersebut jalan ternyata ac-nya mati, jadilah seluruh penumpang yang mengisi setengah dari kapasitas bus harus menunggu mesin ac dibetulkan. Saat itu para penumpang sudah mulai marah oleh pengelola dan juga supir, karena harga yang mereka bayar bukan untuk mendapatkan bus rusak dan tidak sepadan dengan apa yang mereka bayarkan. Setengah jam berlalu, akhirnya bus kami pun mulai melakukan perjalanannya, saya pun mulai memberi kabar ke teman-teman yang sudah lebih dulu sampai di Jogja bahwa kami sudah berangkat.

Dalam perjalanan tersebut seperti biasa saya duduk di pojok dekat jendela, tempat favorit saja. Setelah hampir satu jam kami meninggalkan terminal, ternyata ada keanehan lain “ini bus kenapa berada di tol yang mengarah ke tanjung priok, kenapa tidak langsung ke tol Cikampek?” akhirnya saya memberitahukan partner saya agar dia menanyakan kepada supir bus karena saya pikir dia akan mencari penumpang berhubung kapasitas bus masih setengahnya. Setelah ditanya ke supir tersebut ternyata si supir salah masuk tol dan setelah teguran dari para penumpang, si supir tersebut keluar tol dan putar balik, dan bodohnya si supir itu malah mengarahkan busnya ke Pulogadung dan entah untuk alasan apa karena setelah sampai terminal Pulogadung, dia hanya putar balik lagi dan kembali kearah bypass menuju cawang. Semua penumpang sudah sangat marah, karena harusnya saat itu kami sudah berada di tol Cikampek tapi malah diputar-putar oleh supir bus yang ternyata tidak tahu jalan, bayangkan saja di Jakarta saja kami sudah kesasar apalagi nanti ketika sudah masuk ke Jawa Barat/Jawa Tengah.Sudah hampir tengah malam kami baru memasuki tol Cikampek, itu pun masih harus terjebak macet di tol Jatibening, saya pun mulai lelah dan mengantuk.


25 Mei 2013

Pukul 01.00 saya terbangun, saya pikir bus sudah melaju jauh dari Jakarta, taunya masih di daerah Cibitung, supir bus mengambil penumpang di GT Cibitung dan penumpang bus sudah mulai penuh, saya hanya terbangun sebentar, perut sudah pun sudah mulai keroncongan karena baru diisi pada jumat siang dan bus belum ada tanda-tanda akan istirahat makan, jadi lebih baik saya melanjutkan tidur saya saja. Pukul 04.00 bus berhenti di Indramayu untuk beristirahat, bayangkan saja kami berangkat sekitar pukul 20.30 dan baru beristirahat pada pukul 04.00 dan masih di daerah Indramayu pula, mau sampai kapan kami sampai di Jogja?

Pagi mulai menjelang, bus kami sempat berhenti sekali karena ac mulai ngadat dan saat itu sudah sekitar pukul 06.00 atau pukul 07.00, saya pun sudah tidak bisa tidur karena sudah mulai gelisah. Perjalanan ke Jogja masih sekitar enam sampai tujuh jam lagi tapi kami masih berada di sekitar Cirebon dan waktu kami benar-benar terbuang sia-sia.

Sesampainya di Kabupaten Brebes ada satu kejadian yang membuat saya benar-benar sudah habis kesabaran. Si supir yang sudah membawa kami berkeliling Jakarta sebagai bonus perjalanan, ternyata melakukan hal bodoh lagi, ia melewati jalan yang sama selama dua kali. Partner saya pun mengatakan kepada saya agar kita melanjutkan perjalanan menggunakan travel ke Jogja. Sebenarnya ide tersebut sudah tercetus saat kami berada di Cirebon tapi saya sanksi karena kita berdua tidak tahu jalan dan bus tersebut tidak lewat tengah-tengah kota, jadi agak riskan untuk saat itu turun di Cirebon.

Beberapa travel dari Brebes ke Jogja pun sudah dihubungi dan ada satu travel yang akan berangkat pukul 10.00, jadi kami tidak perlu menunggu lama karena saat itu sudah pukul 09.00, turunlah saya berdua di Alun-alun kota Brebes, beberapa penumpang yang duduk di dekat bangku kami pun bertanya mengapa kami berdua turun di tengah perjalanan dan kami cuma bisa menjawab “mendingan turun deh pak, ngurang-nguranin dosa nih daripada marah-marah terus sama si supir bus”. Dengan perasaan lega kami turun dari bus menyebalkan itu, setidaknya kami tidak diliputi rasa kesal dan marah karena kelakuan supir bus yang super ajaib.


Supir bus yang sudah membawa kami berkeliling Jakarta


Iseng -iseng narsis sambil nunggu travel dari Brebes - Jogja

Alun-alun kota Brebes


Di alun-alun kami beristirahat sebentar di warteg kecil pinggir jalan, sekalian nge-charge handphone dan menunggu travel kami datang. Pukul 10.30 travel kami pun datang, kami penumpang pertama yang dijemput, si supir travel yang cukup ramah menanyakan tujuan kami kemana. Kami bilang tujuan kami ke Jogja, tapi sebenarnya kami akan ke Borobudur Magelang. Si supir pun menawarkan mengantar ke Magelang, ya hanya menambah uang rokok saja. Setelah sepakat kami berdua pun bisa tersenyum lega, lumayanlah kami tidak perlu capek-capek ke Jogja dulu baru ke Magelang. Setelah si supir menjemput dua orang penumpang yang lain, mulai lah perjalanan kami menuju Magelang. Selama perjalanan saya menikmati hamparan sawah yang hijau, rumah-rumah penduduk, jarang sekali saya melintasi jalanan yang penuh sesak, mungkin karena mobil travel jadi banyak melewati jalur alternatif. Sekitar pukul 15.00 kami istirahat di sebuah rumah makan, disitu kami berdua baru makan dengan santai tanpa terburu-buru, makanannya pun cukup enak khas masakan rumahan. Selesai makan saya menyempatkan diri untuk bersih-bersih badan, kamar mandinya bersih airnya segar, niatnya hanya ingin cuci muka tapi saya malah mandi karena saya piker sesampainya saya di Magelang sudah tidak sempat untuk mandi lagi.

Perjalanan pun dilanjutkan, di tengah-tengah perjalanan hujan mulai turun, sore yang hangat berubah menjadi dingin karena guyuran hujan. Memasuki kota Magelang, hujan makin deras dan kemacetan sudah mulai tampak. Selepas magrib kami berdua sampai di terminal dekat candi Borobudur, kami minta diturunkan di terminal karena kasihan dengan penumpang travel yang lain untuk mempersingkat waktu, tak lupa kami ucapan terima kasih yang tulus kepada pak supir yang sudah mengantarkan kami dengan selamat, ah andaikan supir bus kami seperti pak supir travel ini.

Perjalanan ke candi Borobudur kami lanjutkan dengan berjalan kaki, dari terminal hujan belum turun tapi saat kami hampir sampai candi, hujan mulai turun rintik-rintik. Sesampainya kami di pintu candi, para pengunjung mulai berdesakan. Pintu yang hanya dibuka sedikit menyulut pengunjung yang lain untuk saling dorong-dorong dan melontarkan teriakan-teriakan agar pintu dibuka lebih besar. Kami berdua akhirnya bisa masuk ke dalam. Di dalam candi Borobudur sudah banyak pengunjung, berbaur dengan para umat Budha. Sesampainya kami disana, Menteri Agama sedang melakukan pidato, dilanjutkan dengan pidato dari Gubernur Jawa Tengah dan juga dari Pemuka Umat Budha. Pengunjung semakin tak beraturan, hujan pun semakin deras. Para pengunjung yang bercengkrama dengan kawan-kawannya mengurangi ke-khusuk-an ibadah malam itu. Niat saya untuk mengeluarkan kamera karena ingin mengabadikan malam itu pun saya urungkan, hujan yang semakin deras ditambah saya tidak membawa paying menjadi alasannya. Cukup lah saya bisa melihat dari dekat Hari Raya Waisak di Borobudur tanpa harus mengabadikan moment ini dengan kamera mungil saya toh perjalanan dari Jakarta yang cukup melelahkan sudah mengurani minat saya mengambil gambar.

Sejam berlalu, akhirnya kami berdua bisa bertemu dengan rombongan kawan- kawan yang lain. Syukurlah kami berdua bisa bertemu mereka di tengah kerumunan ribuan orang, segala kesusahan selama kami menuju Borobudur pun terasa sirna. Pukul 22.00 hujan tidak mereda malah semakin deras, dari pengeras suara terdengar suara panitia yang menyampaikan bahwa apabila dalam waktu setengah jam hujan tidak reda acara pelepasan lampion harapan yang merupakan salah satu prosesi Waisak tidak akan dilaksanakan. Saya dan kawan-kawan masih menunggu setengah jam lagi, ternyata semesta berkata lain, apa yang sudah direncanakan oleh manusia tetap kembali pada kebesaran semesta. Hujan pun semakin deras dan kami bergegas untuk ke pintu keluar. Saat berjalan ke pintu keluar banyak para pengunjung yang merasa kecewa karena pelepasan lampion tidak jadi dilakukan pada malam itu, saya pribadi pun sudah tidak peduli, capeknya badan lebih menyita energi saya ketimbang harus merasa kecewa hanya karena pelepasan lapion tidak jadi dilakukan, toh kalau semesta berkehendak saya sebagai manusia bisa bilang apa, hujan tidak dapat dicegah karena itu kemauan dari semesta dan hujan itu merupakan anugerah jadi mengapa mesti marah.


Saya berdua terpisah dari rombongan, yang lain sudah menuju kendaraan masing-masing, karena hanya kami berdua yang tidak membawa kendaraan jadilah kami berteduh di sebuah warung, sekedar melepas lelah, mengisi perut dan menunggu kawan-kawan kami yang lain karena saat keluar kami berselisih jalan. Segelas teh manis hangat dan mie instant cup pun kami pesan untuk makan malam cukuplah untuk menemani malam kami yang dingin, setidaknya bisa menghangatkan hati dan badan yang terasa lelah selama lebih dari 24 jam ini.

Satu-satunya photo kemegahan Candi Borobudur saat perayaan Waisak yang saya photo menggunakan kamera handphone



NM

Thursday, April 04, 2013

Sepenggal Kisah Tentangmu


Sebuah lagu mengalun indah dari laptopku, lagu yang pernah direkomendasikan oleh salah seorang sahabatku. Tepatnya dijebak sih untuk mendengarkan lagu tersebut, sahabatku bilang "Tadi aku baru dengerin satu lagu, kayanya pas banget buat kamu deh".

Ada rasa ragu kala aku ingin mendengarkannya tapi rasa penasaranku ternyata lebih besar...dan benar saja...baru satu, dua bait lagu tersebut air mataku mengalir deras tanpa henti. Air mata yang tidak dapat aku redam walau aku sudah berusaha untuk menampungnya hanya dalam hati. Tumpah semua perasaan yang selama ini aku pendam, lega karena bisa melampiaskan rasa yang selama ini bersemayam.



       Hai, selamat bertemu lagi..                                 

       Aku sudah lama menghindarimu
       Sialkulah kau di sini
       Sungguh tak mudah bagiku
       Rasanya tak ingin bernafas lagi
       Tegak berdiri di depanmu kini
       Sakitnya menusuk jantung ini
       Melawan cinta yang ada di hati

       Dan..upayaku tahu diri..
       Tak slamanya berhasil
       Pabila kau muncul terus begini
       Tanpa pernah kita bisa bersama
       Pergilah, menghilang sajalah..lagi..

       Bye, selamat berpisah lagi
       Meski masih ingin memandangimu
       Lebih baik kau tiada di sini
       Sungguh tak mudah bagiku
       Menghentikan sgala khayalan gila
       Jika kau ada dan ku cuma bisa
       Meradang menjadi yang di sisimu
       Membenci nasibku yang tak berubah

       Dan..upayaku tahu diri..
       Tak slamanya berhasil
       Pabila kau muncul terus begini
       Tanpa pernah kita bisa bersama
       Pergilah, menghilang sajalah..lagi..


       Berkali-kali kau berkata
       Kau cinta tapi tak bisa
       Berkali-kali tlah berjanji
       Menyerah...

       Dan..upayaku tahu diri
       Tak slamanya berhasil

       Pergilah, menghilang sajalah
       Pergilah, menghilang sajalah..lagi...


       (Maudy Ayunda - Tahu Diri)


Mungkin karena lirik lagu tersebut sedikit menyinggung kejadian beberapa hari sebelumnya, ya tatkala aku bertemu dengan dia yang selama ini (mungkin) kuhindari atau memang semesta sedang tidak mempertemukan kita. Dan ketika semesta mempertemukan, serasa ditampar oleh kenyataan bahwa ada dia yang sedang duduk disana tanpa aku sadari kehadirannya. Ya, sungguh diluar dugaan. Pahit memang, karena aku memang belum ingin bertemu dengannya walau dihati kecil aku rindu kehadirannya, pelukannya, dan kecupan lembutnya di kening aku seperti dulu.

Antara marah kepada semesta dan tak tahu harus berbuat apa, aku hanya diam dan tidak banyak bicara, seperlunya dan bukan kepadanya. Ah, kalau kuingat betapa bodohnya aku, betapa tololnya sikapku saat itu, buat apa aku membangun gunung es diantara aku dan dia. Dan kejadian bodoh itu pun aku ceritakan kepada sahabatku yang akhirnya menjebakku dengan lagu ini..iya aku merasa terjebak..hahaha..bodoh kuadrat.

Dan sekarang, hanya bisa tertawa kalau mengingat kejadian beberapa bulan lalu itu, stupid me.. :'D




NM

Wednesday, March 20, 2013

Dear You

Aku tidak tahu apa arti kebersamaan kita, ada yang bilang kita ini sepasang kekasih, ada juga yang bilang kalau kita hanya dua orang yang kesepian dan saling membutuhkan, ada juga yang bilang kalau kita ini bagai dua jarum ditumpukan jerami yang saling berdekatan. Lucu ya, bahkan kita tidak tahu arti kebersamaan kita ini seperti apa. Sudah berulang kali kita mempertanyakan hal ini dan hasilnya...nihil...hahahaha...dan disela tawa itu kamu selalu mengatakan bahwa "Status gak menjamin kebahagiaan kan?" dan aku pun mengangguk setuju.




Diawal aku hanya merasa bahwa kamu orang yang hangat, penuh kasih sayang dan penuh keceriaan. Ya, cuma itu. Kamu adalah teman disaat aku gundah, resah dengan segala pikiran yang berlarian di kepalaku, dan juga bahu dikala aku butuh tempat bersandar. Tak terasa rasa nyaman menyelinap diam-diam ke dalam diriku (mungkin juga kamu). Saat menghabiskan waktu bersamamu adalah saat dimana aku harus tersenyum dan juga tertawa. Kamu tidak suka jika aku terdiam dengan bibir mayun yang khas disaat mood ku sedang berantakan. No, kamu tidak akan suka situasi itu. Buatmu, sudah cukup tiap tetes air mata yang pernah kamu lihat, dulu.

Entahlah, kadang aku merasa bahwa "come on, senyum, tawa, amarah, bahkan tangisan itu biasa" tapi buatmu, tangisku merupakan sedihmu dan kamu tidak suka itu.

Sudah berapa banyak gelak tawa yang sudah kita ciptakan saat bersama?
Sudah berapa tetes air mata yang kita keluarkan saat kita berdua?
Sudah berapa banyak amarah yang selalu reda dalam hitungan jam?
Sudah berapa banyak senyum bodoh saat salah satu dari kita memberikan kejutan kecil yang tak terduga?

Mungkin belum banyak, sangat sedikit malah. Hanya terkadang, saat tangan tak dapat saling menggenggam, saat bahu tak dapat disandarkan, saat tubuh ini tak dapat saling memeluk, hal-hal bodoh yang sering kita lakukan menjadi hiburan tersendiri.

Senang bahwa segala goresan kisah tentang kamu dan aku tidak tertuang dalam satu buku, ya tidak  hanya di buku itu aja. Karena goresan kisah kita bisa kita tuangkan disecarik kertas, di dahan pohon, di sebuah pesan singkat, di buku catatan kuliahku, atau mungkin di buku tagihan bulananmu.hahaha..
Itu pertanda bahwa apa yang kita kisahkan tidak melulu terpaku pada satu hal baku, seperti pertalian hubungan yang selama ini orang pikirkan.

Buatku, hadirmu itu bagai pelangi...mungkin hujan harus turun membasahi, tapi selalu berakhir dengan warna indah yang sangat cantik dan menawan...

Lalu, apa arti hadirku..buatmu?




NM

Sunday, March 10, 2013

Arti Hadirmu

Semesta mungkin sedang bercanda
Atau mungkin sedang tertawa
Karena ada sesosok manusia
Dengan segala egonya
Dengan segala keras hatinya
Dengan segala kelemahannya
Dapat tunduk kepada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya

Darinya ia belajar untuk dapat menerima
Darinya ia belajar untuk memaknai hidupnya

Mungkin semesta jengah terhadap apa yang pernah dilaluinya
Setahun, sebulan, seminggu, bahkan sehari yang lalu...
Ia pernah menyia-nyiakan hidupnya
Semesta ingin ia berkaca
Bahwa hidup tidak dapat ia sia-siakan begitu saja
Dan semesta menyadarkan...Dengan caranya...Dari dirinya



NM