Mungkin semua salahku, aku yang memulai semua lembaran kisah kita...
Dipertengahan Januari lalu kita bertemu, hanya kenal sebatas kawan sesama relawan..
Ya, hanya itu..
Bertegur sapa pun jarang, karena seperti biasa aku jarang memulai percakapan terhadap orang baru.
Lagipula saat itu kita semua sedang sibuk-sibuknya dengan tanggung jawab masing-masing, pun disana ada dia yang sangat aku puja. Dia yang selama ini berdiri di depanku, walau tak terlihat.
Aku baru bertegur sapa dan bisa bicara banyak denganmu tepat hari terakhir, iya hari terakhir kita menjadi relawan. Dan hari itu awal kita bertukar contact secara pribadi, awalnya masih biasa bahkan tak ada rasa.
Hari berganti minggu, tepat seminggu setelah perpisahan itu kita bertemu lagi dan (masih) tidak ada rasa apa-apa, ya hanya kenalan bahkan belum berlabel teman. Ya cuma itu, sebatas orang yang aku kenal.
Beberapa hari setelahnya, kita sempat bercerita banyak di blackberry messenger, kamu menemaniku malam itu ketika seluruh orang di rumahku sedang tidak ada, ya seperti biasa..sendiri..semacam kuncen yang bekerja menjaga rumah. Malam itu, bahkan aku tahu kamu sedang mengerjakan tugasmu, kamu pun sedang dikejar deadline, tapi masih menyempatkan diri untuk menemaniku, walau hanya lewat messenger.
Kamu dengan sabar membaca segala keluh kesahku, padahal kita tidak sedekat itu, ya seperti yang kubilang diawal, kalau kita masih sebatas kenalan belum ada label teman tapi mengapa nyaman. Ah sudah, cepat-cepat kutepiskan kata "nyaman" dibenakku.
Malam kian larut, seorang teman mengajakku untuk bermain ke rumahmu. Batinku "gimana caranya aku ke rumahmu, kendaraan tak ada, bahkan rumahmu pun entah dimana." Tapi temanku bilang "sudah ikut saja, nanti kita bertemu di resto fast food dekat rumahmu ya, kamu bisa kan naik ojek dari rumah?" dan aku pun mengiyakan.
Lewat tengah malam aku bertemu temanku, dari resto fast food itu aku meluncur ke rumahmu. Sedikit bercerita tentangnya juga tentangmu..dan dia.. "ooooh, jadi dia lagi suka sama cewe, kak? aku baru tahu sih, pantas saja waktu itu dia mengantar cewe itu pulang." dalam hati aku berbisik "oh sudah punya gebetan" (ITU SUDAH).
Sesampainya di rumahmu, aku merasa ada kehangatan yang menyeruak walau aku tahu kamu tinggal sendiri dan aku cuma bisa berdecak kagum dalam hati "hebat ya bisa hidup sendiri selama ini". Aku sebagai penyuka kesendirian pun tidak akan mampu melewatinya, ya aku salut denganmu dan itu kesan pertamaku. Sejak kunjungan pertamaku itu, entah mengapa kita semakin dekat mungkin karena jarak rumah kita yang tidak terlalu jauh atau memang karena kita sama-sama butuh seorang teman.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Entah sudah berapa kali kita bertemu, hanya berdua atau bersama dengan teman-temanmu. Saat kamu berulang tahun pun aku tidak ingin kamu melewatinya bersama teman-temanmu saja, aku semacam ingin ikut merasakan kebahagianmu dalam melewati pergantian usiamu.
Kini rasa itu bukan hanya sekedar kagum atau suka, mungkin sayang atau sudah cinta. Satu hal yang aku tahu, kesabaranmu, kedewasaanmu membuatku betah berlama-lama berada disampingmu. Kamu yang selalu membuatku merasa nyaman, membuatku merasa berharga, dan membuatku merasa mempunyai tempat istimewa di dalam hidupmu.
NM
No comments:
Post a Comment