Film "Surat dari Praha" garapan sutradara Angga Sasongko ini bercerita mengenai perjalanan Larasati (Julie Estelle) untuk memenuhi wasiat dari ibunya Sulastri (Widyawati) mengantarkan sepucuk surat dan sebuah kotak kayu kepada seseorang bernama Jaya (Tio Pakusadewo) seorang eksil yang tinggal di kota Praha.
Berbekal alamat yang berada di surat tersebut, terbanglah Larasati ke kota Praha ibukota dari Republik Ceko. Film ini diawali dengan konflik antara Laras dan Jaya perihal wasiat dari Sulastri. Tentang bagaimana Jaya yang berusaha mengikhlaskan apa yang terjadi di hidupnya selama ini dan runtuh akibat kedatangan Laras, seorang anak dari mantan tunangannya.
Film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini membawa saya kepada sebuah cerita drama yang mengalir dengan alunan lagu karya musisi Glenn Fredly yang dibawakan oleh Laras dan Jaya. Waktu 90 menit tidak terasa karena film ini seolah mengajak kita masuk ke dalam ceritanya, ke dalam dimensi waktunya, ke dalam isi ceritanya. Kenapa Laras bersikap begitu keras kepada ibunya, mengapa ia begitu kecewa dengan ibunya. Mengapa Jaya tak henti-hentinya mencintai seorang Sulastri.
Jujur saya kagum dengan film ini, bagaimana seorang Irfan Ramly sebagai seorang penulis skenario bercerita dan bagaimana seorang Angga Sasongko meramu film ini dan membawa penontonnya larut di dalamnya. Dan penuturan sebuah sejarah masa lalu yang mungkin terlupakan, ditampilkan dalam film ini adalah cara yang cerdas untuk kita renungi "sudah cukup cintakah kamu pada tanah airmu?". Hidup di negeri ini puluhan tahun bahkan sampai mati pun belum tentu kita bisa mencintai tanah air ini dengan segala carut marutnya, kebobrokannya, dan segala ketidak nyamanannya. Tapi bagi seorang Jaya dan para eksil lainnya "cinta tanah air itu tanpa tapi" karena sejatinya cinta adalah tanpa tapi. Pesan saya, datangilah bioskop terdekatmu pada tanggal 28 Januari 2016 tonton "Surat dari Praha" dan jatuh cintalah. NM







