Menjadi diri sendiri emang pilihan yang tepat bagi setiap orang, tapi kadang kita lupa bahwa kita hidup engga sendirian. Yaaaah, kalo kata anak-anak IPS sih kita mah makhluk sosial (bukan makhluk halus yeee..). Ada banyak sekali orang-orang yang akan berinteraksi dengan kita, mulai dari keluarga, teman, orang yang kita temui di jalan,yaaaa..siapa pun deh selama wujudnya manusia. Well, gak ada yang salah sih dengan menjadi diri sendiri selama gak ganggu orang lain. Nah, gak ganggu orang lain ini yang sifatnya abstrak, kadang kita sendiri gak ngerasa ganggu tapi belum tentu dengan persepsi orang lain, katakanlah orang lain gak nyaman sama sikap atau perkataan kita.
Kalau udah kaya gitu, kita yang kudu pinter-pinter baca situasi. Karena sejatinya, kalau kita berada disituasi yang nyaman, mo sampai kapan juga orang betah aja deket dan berinteraksi sama kita. Bukan bermaksud menjadikan diri kita pakai topeng atau kepalsuan karena kita menyesuaikan diri sama situasi dan lingkungan, gak kok maksud gw gak gitu karena kita bisa tetap jadi diri kita sendiri asaaaaal...gak ganggu orang lain dengan tingkah laku dan omongan kita yang bakal bikin orang lain bete.
Gimana cara kita supaya bisa beradaptasi sama lingkungan? Ada beberapa orang yang dengan mudah bilang sama kita "gw gak suka deh kalau lw...." tapi itu akan terjadi kalau kita udah saling deket, sama sahabat atau temen nongkrong bareng misalnya. Tapi kan gak semua orang bisa ngomong to the point kaya gitu, kalau udah kaya gini kita-nya yang kudu aktif membaca situasi (seperti yang gw bilang diawal). Baca situasi bisa diartikan baca gerak-gerik atau bahasa tubuh orang yang kita ajak bicara. Kalau kondisinya di social media kaya twitter lebih absurd lagi karena bahasa tulisan gak semua orang bisa ngerti. Tapi gw yakin masing-masing orang punya cara sendiri buat ngungkapin rasa gak sukanya. Kalau udah kaya gitu masih mau jumpalitan gak keruan dengan alasan "ini kan diri gw apa adanya" duh kata-kata kaya gitu buat gw sih basi banget, terkesan defensif aja. Kenapa kita gak coba untuk introspeksi diri sama hal-hal apa yang bikin orang males atau bete sm kelakuan kita.
Belajar untuk memahami gak cuma orang lain ke kita tapi diri kita ke orang lain dan hal itu gak menghambat kita untuk tetap jadi diri sendiri kok, hanya sedikit membatasi alias tau diri aja sama apa yang kita lakukan. Kita berteman gak cuma buat sejam dua jam kan, tapi kita berteman untuk jangka waktu yang entah sampai kapan, kalau kelakuan kita aja udah bikin sebel satu atau dua orang, gak mustahil tiga orang bahkan rata-rata teman kita males untuk temenan lagi sama kita. Kalau kita merasa bahwa "yaudah berarti mereka gak cocok temenan sama kita, better gw cari temen lain aja" mau sampai kapan kita punya pemikiran kaya gitu? Apakah dilingkungan yang baru situasinya akan lebih baik? Atau malah lebih buruk? Intinya, menjadi diri sendiri itu buka berarti semaunya kita, ada hal-hal yang mesti kita rubah untuk jadi lebih baik dan itu bukan alasan buat kita gak jadi diri sendiri.
Berteman dengan cara yang cerdas bikin kita disukai banyak orang, nambah teman, nambah networking, nambah ilmu juga loh. So, masih pengen bilang "ini gw apa adanya, mau terima sukur engga ya udah?"
NM